Bila ditelusuri lebih mendalam lagi sebenarnya ada banyak sekali pendapat yang mengartikan tentang manusia, diantaranya; mereka yang menganut faham materialisme dengan menganggap bahwa jasad adalah hal yang utama. Maksudnya adalah manusia pada akhirnya adalah benda seperti benda lainnya. Lalu bila dilihat dari pendapat kaum materialis menunjukkan bahwa meskipun mereka tidak menyamakan manusia dengan batu atau pohon, tetapi bagi mereka hakekatnya adalah sama, manusia hanya materi sebagai hasil proses unsur-unsur kimia. Sementara dari para cendekiawan Islam, mengakui bahwa manusia dalam bentuk jasadnya tidak berbeda dengan tubuh makhluk lainnya, sifatnya fana dan pada akhirnya akan lenyap kembali ke alamnya, yaitu unsur tanah. Tetapi pada diri manusia terdapat roh yang lebih utama daripada jasad, roh yang sifatnya baqa, tetap kekal. Walau manusia mati yang lenyap bersama tanah hanyalah jasadnya, sedangkan ‘roh’ akan kembali ke alam baqa yaitu; alam yang kekal dan abadi. Adapula pendapat lainnya yang mempunyai paham idealisme, dipelopori oleh seorang filsuf kenamaan yaitu Descartes 1596-1650. Beliau mengatakan mengenai kejiwaan; manusia itu terdiri dari dua macam zat yang berbeda secara hakiki, disebutkan dengan nama res cogitans atau zat yang dapat berpikir dan res extense atau zat yang mempunyai luas. Dijelaskan bahwa zat yang pertama dicontohkan olehnya ialah zat bebas, yang tidak terikat pada hukum-hukum alam dan bersifat rohaniah, sedangkan zat kedua adalah zat materi (tidak bebas), terikat dan dikuasi oleh hukum-hukum alam. Jiwa manusia terdiri dari zat roh, sedangkan badannya terdiri dari zat materi. Kedua zat tersebut berbeda dan terpisah kehidupannya, antara satu dengan yang lainnya dihubungkan oleh sebuah kelenjar dalam otak. Descartes juga berpendapat, “ilmu jiwa adalah ilmu mengenai gejala-gejala pemikiran atau gejala-gejala kesadaran manusia yang terlepas dari badan-badannya”. Dengan demikian dapat diberikan kesimpulan bahwa Descartes memandang manusia itu dari pikiran atau kesadaran. Lalu terkenal dengan prinsipnya yaitu; cogito ergo sum, yang mempunyai arti: “aku berpikir, jadi aku ada.” Manusia bukan hanya sekedar pikiran atau kesadaran, akan tetapi mempunyai jati diri sebagai manusia, karena ia bersatu dengan realitas keadaan sekitarnya. Setelah itu manusia menjadi subyek, karena menghadapi obyek. Dari beberapa pendapat yang mengatakan manusia, maka dapat bila disimpulkan bahwa manusia bukanlah hanya obyek atau materi sebagaimana yang telah menjadi pandangan ajaran materialisme, akan tetapi bukan juga hanya subyek atau kesadaran seperti menjadi anggapan dari paham idealisme dan tidak hanya “ada” atau “berbeda” seperti ada dari keberadaan benda lain Akan tetapi dalam keberadaannya itu, manusia sadar akan dirinya yang saat ini berada pada dunia yang nyata. Di dunia, materi benda merupakan barang yang tertutup, berdiri sendiri, antara satu dan lainnya terpisah. Hubungan antara benda satu dengan lainnya merupakan hubungan menurut tempat, antara barang satu dengan lainnya tidak terdapat interkomunikasi. Tetapi sebagai persona seseorang dapat memasuki persona orang lain. Sebagai makhluk dalam bentuk jasmaninya. Contohnya; Perasaan cinta yang timbul antara lawan jenis, apa yang akan dirasakannya. Faktanya bahwa persona pada kedua orang tersebut telah menjadi satu. Tetapi berbeda jika, persona tujuan tidak sesuai dengannya akan terjadi crash diantara keduanya. Dalam interkomunikasi, persona juga meminta bantuan tubuh untuk melambangkan perasaannya, apakah itu dengan perkataan yang manis, membelai dengan penuh kasih sayang, atau ciuman mesra. Persona berkembang menuju kesempurnaan berdasarkan pengalaman berkomunikasi, Untuk selanjutnya dapat berkomunikasi dengan sempurna. Dengan personanya itu, manusia menyadari hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang telah ia lakukan di masa lalu, menyadari hal-hal atau peristiwa-peristiwa dilakukan pada saat ini, serta menyadari akan hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang dilakukan di hari-hari yang akan datang (masa depan). Pada setiap manusia memiliki ciri serta sifat yang mandiri atau berbeda dengan manusia lainnya. Di sinilah letak keunikan dari manusia itu. Tidak ada dua manusia yang sama di dunia ini. Pengalaman masa lalu dan aspirasi untuk waktu yang akan datang menentukan tingkah laku seseorang saat ini. Karena setiap orang mempunyai pengalaman dan aspirasi berbeda satu sama lain, maka tingkah lakunya pun di masa kini berbeda-beda. Karena keunikannya itulah maka manusia dipandang dan dinilai berbeda-beda, sehingga timbullah beberapa istilah tentang manusia antaralain; Homo faber; Manusia adalah makhluk yang mempunyai keinginan dalam berkarya dengan menggunakan logika. Homo sapiens; Manusia adalah makhluk yang mempunyai jiwa, berpikir serta mempunyai sikap bijaksana. Homo creator; Manusia adalah makhluk pencipta nilai; berhasilnya setiap karya manusia disebabkan idenya. Homo homini socius; Manusia adalah makhluk sosial dan selalu ingin berbagi kepada sesamanya. Homo viator; Manusia adalah makhluk yang selalu ingin tahu dan tak perah merasakan kepuasan, karenanya ia selalu menuju suatu tujuan. Homo universale; Manusia secara a priori telah ditentukan terlebih dahulu, sempurna dan lengkap pada dirinya, dan hal tersebut berlaku di mana pun juga. Mengenai Tingkah Laku Manusia Ada pepatah kuno yang mengatakan bahwa “dalamnya lautan masih dapat terjangkau akan tetapi dalamnya hati/perasaan siapa yang mengetahuinya (tidak dapat terjangkau)” Bila diartikan di dalam bahasa ilmiah yaitu; amat sukarlah untuk mengenal jiwa manusia karena mempunyai sifat yang abstrak. Walau para peneliti dapat menelusuri melalui observasi, hanya akan menemukan bahwa jiwa selalu diekspresikan melalui raga atau badan. Seperi menangis, gembira, muram, gelisah atau lainnya. Oleh karena itu sebagai manusia yang memiliki sikap keunikkannya, maka tidak boleh memberikan penilaian tertentu terhadap jiwa seseorang atas dasar penglihatan kepada tingkah-lakunya pada saat itu juga, sebab ada orang yang menangis bukan karena sedih, melainkan karena gembira. Ada juga orang yang ketika mendengar berita sedih tidak langsung menangis, bahkan tetap tersenyum sehingga orang lain mengira ia tidak terpengaruh oleh berita tadi, tetapi sesampainya di rumah, ia pun akan mengeluarkan tangisannya yang ditahan tadi sebagai pelampiasan rasa sedihnya. Bukan hanya itu, sebuah ekspresi tidak selalu mencerminkan satu makna kejiwaan, contohnya saja pada ekspresi bibir dalam bentuk senyum. Memang secara konkret senyum dapat mencerminkan rasa senang, tetapi dapat pula mencerminkan rasa sinis atau malu. Meskipun demikian, dapatlah dibedakan mana senyum senang, senyum malu dan senyum sinis, karena dengan melihat orang yang senyum, tidak hanya bibirnya yang bergerak, tetapi lihat tingkah lakunya secara keseluruhan. Dengan melihat muka, matanya atau tangannya yang menunjukkan sebuah gerakan atau suara yang keluar dari mulutnya, maka dapat diambil kesimpulan apakah orang tersebut tersenyum gembira, malu atau sinis. Dalam perihal tertentu untuk dapat memahami jiwa seseorang atau pribadi sendiri cobalah dengan memperhatikan jejak-jejak permanen dan tingkah laku yang diperbuat sehari-hari. Jejak-jejak permanen tersebut adalah pengekspresian yang menetap dari tingkah laku sehari-hari.
http://webmaster.restuagungonline.com/wblocks/konten.php/2009/08/21/pandangan-lain-tentang-manusia
